
Tasfm.com – Sebuah pemandangan yang khas di Desa Dukuh, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Deretan asap pertanda produksi di industri gula merah Dukuh sedang berlangsung.
Terdapat 2 rumah industri gula merah yang terbuat dari tebu di desa Dukuh. Pak Samad perajin gula merah berproduksi gula merah tidak ada hentinya tiap hari bisa menghasilkan rata rata 1 ton gula merah.
“Memang tergantung ketersediaan bahan baku. Untuk hari ini 6,5 ton tebu menghasilkan 6,5 kwintal gula merah,” kata Samad.
Naiknya harga baku plastik. Harga 1 biji bungkus plastik 45 X 80 = 25kg. Harga semula 750rb menjadi 2rb. Menjadikan Pak Samad memutar otak agar terus melanjutkan produksi gula merah.
“Alhamdulillah, senyampang pembeli mau menerima dan tetap membeli dengan harga yang berbeda kita tetap produksi. Yang semisal sekira harga perkilo gula merah 8.500 naik menjadi 10.500.” ungkapnya.
Industri Gula Merah desa Dukuh Kecamatan Ngadiluwih, menurut Pak Samad berdiri pada tahun 2022. Sekarang, mempunyai karyawan ada 16 orang dan semuanya pegawai lepas atau dengan sistem borongan. Armada truck 2 unit dengan sistem borong tebu.

Samad berharap. Perbankan sebagai motor penggerak ekonomi mempunyai beberapa peranan, yakni menumbuhkan sektor usaha kerakyatan, meningkatkan kemampuan ekonomi pengusaha & UMKM, dan sebagai sumber pendanaan. Meskipun dianggap layak, realisasi kredit seringkali belum optimal, di mana banyak pengrajin gula merah belum mendapatkan akses kredit dari bank. (*)
Reporter : Panji Achmad Chpalin

