
Tasfm.com – Kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah semakin dirasakan oleh para tenaga pendidik usai mengikuti Pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Kediri, Selasa (30/6). Melalui pelatihan yang digelar di Aula RA Kartini Dinas Pendidikan, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai mitigasi bencana, tetapi juga dibekali kemampuan menyusun langkah-langkah penanganan bencana yang dapat diterapkan di satuan pendidikan.
Salah satu peserta, Edo Rahmat, Guru SMAN 8 Kediri, mengaku pelatihan tersebut menjadi pengalaman baru karena sebelumnya belum pernah mendapatkan materi khusus mengenai pencegahan maupun mitigasi bencana di lingkungan sekolah.
“Materi ini sangat bermanfaat karena kami menjadi lebih siap menyampaikan edukasi kepada siswa ketika terjadi bencana. Kami juga belajar memetakan potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi di sekolah sehingga dapat menentukan langkah pencegahan maupun penanganannya,” ujarnya.
Menurut Edo, materi mengenai pemetaan ancaman bencana menjadi bagian yang paling relevan karena menjadi dasar dalam menyusun upaya mitigasi. Dengan memahami potensi resiko yang ada, sekolah dapat mempersiapkan prosedur yang tepat apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.
Ia mengakui bahwa kesiapsiagaan bencana di sekolahnya masih perlu ditingkatkan. Selama ini, perhatian terhadap aspek tersebut belum menjadi prioritas sehingga fasilitas pendukung masih terbatas, salah satunya hanya tersedia Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Sepulang dari pelatihan, Edo berencana menyampaikan hasil pembelajaran kepada kepala sekolah beserta jajaran manajemen untuk kemudian menyusun rencana tindak lanjut. Langkah tersebut meliputi identifikasi kebutuhan yang belum tersedia di sekolah hingga penyusunan program kesiapsiagaan bencana secara bertahap. Ia juga berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SMA agar budaya sadar bencana dapat tertanam sejak dini.
Sementara itu, Dahlia Kusumawati, narasumber dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur, menjelaskan bahwa pelatihan SPAB membekali peserta dengan materi manajemen penanggulangan bencana yang meliputi mitigasi, manajemen kedaruratan, praktik penanganan bencana, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di masing-masing satuan pendidikan.
Menurutnya, satuan pendidikan aman bencana adalah sekolah yang telah memiliki prosedur dan mekanisme yang jelas ketika menghadapi bencana sehingga seluruh warga sekolah, khususnya peserta didik, dapat terlindungi dari dampak yang ditimbulkan. Untuk mewujudkannya, sekolah perlu membentuk tim siaga bencana yang solid, menetapkan jalur evakuasi, titik kumpul dan titik evaluasi, serta rutin melaksanakan simulasi kebencanaan.

Dahlia menambahkan, tantangan yang masih sering ditemui adalah belum siapnya tenaga pendidik dalam menghadapi situasi darurat. Kepanikan guru saat bencana terjadi dapat menghambat proses evakuasi peserta didik. Selain itu, sekolah juga perlu didukung sarana prasarana seperti tangga darurat, jalur evakuasi, titik kumpul yang memadai, serta revitalisasi bangunan apabila kondisi fisiknya sudah tidak layak.
Di lain kesempatan, Mandung Sulaksono, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, mengatakan pelatihan yang diikuti lima belas perwakilan guru di Kota Kediri ini merupakan tindak lanjut atas meningkatnya kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia. Melalui program yang digagas Kementerian Pendidikan, sekolah diharapkan mampu memahami manajemen penanganan dan penanggulangan bencana sesuai dengan potensi resiko di wilayahnya.
Ia berharap sekolah-sekolah peserta dapat menjadi percontohan penerapan SPAB di Kota Kediri. Sebelumnya, pihaknya bersama BPBD Kota Kediri juga telah melakukan pendampingan penerapan SPAB di SMPN 6 Kediri. Ke depan, melalui penguatan kesiapsiagaan ini, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi resiko bencana.

