
Tasfm.com – Aliansi Bima Sakti lakukan aksi audiensi bersama PT Pertamina Patra Niaga Jawanus, Perseroan yang yang berfokus pada distribusi dan perdagangan produk energi seperti BBM industri, bahan bakar penerbangan, bitumen, dan produk petrokimia. Perusahaan ini dijuluki “Jawanus” memiliki wilayah operasional yang mencakup Jawa-Timur, Nusa-Bali.
Khoirul Anam, pemimpin aksi, mengungkapkan dari dialog yang sudah dilakukan tiga kali ini, belum mendapatkan kejelasan, bahwa yang katanya pihak Pertamina yang sudah mengambil langkah-langkah solusi belum ditemukan satupun pertalite menjadi penyebab.
“Ini kan sama juga dengan memfitnah masyarakat. Padahal masyarakat terus bergelimpangan dijalan,” kata Anam.
Untuk itu, lanjut Anam, masyarakat tidak boleh dirugikan dengan dalih dari pihak Pertamina, karena masyarakat itu membeli pertalite dengan uangnya sendiri. Meskipun ada penyertaan subsidi secara proregatif itu haknya rakyat.
“Jadi uang itu juga uang rakyat, terkait dengan pengaduan penggantian ternyata juga tidak semudah faktanya,” terangnya.
Namun begitu, Anam tetap mengucapkan terima kasih yang sebelumnya ditemui lewat zoom, hari ini bisa betatap muka langsung meskipun kecewa dengan hasil pertemuan dengan pihak PT Pertamina Patra Niaga.
“Ingat, kami sudah kantongi oknumnya siapa yang bermain, tapi belum saatnya kami sampaikan, ini belum berakhir,” jelasnya.
Ditempat yang sama, Imam Muhaimin, dikarenakan pertemuan tidak membuahkan hasil yang diinginkan, Aliansi Bima Sakti akan lakukan pendapat di muka umum dan lakukan upaya langkah hukum, agar oknum-oknum yang diduga mengakibatkan adanya kejadian luar biasa dugaan mengoplosan pertalite tertangkap.

“Masyarakat akan kita ajak berbondong-bondong untuk menuntut haknya karena pertamina itu juga milik negara artinya juga milik rakyat,” tegasnya.
Korban akibat dugaan pertalite oplosan cukup banyak, termasuk yang dialami Hariyadi warga Kauman Kelurahan Kampung Dalem, ia mengungkapkan pernah melakukan pengaduan ke PT Pertamina Niaga pada tanggal 8 November 2025, sampai sekarang belum ada kelanjutanya,” Saya sampai sekarang menunggu konfirmasi dari PT PPN, takutnya itu hanya dibuat formalitas dan disalahgunakan,” kata Hariyadi sambil menunjukkan bukti kwitansi.
Sementara, Pihak PT Patra Niaga, dikonfirmasi ditempat untuk sebuah perimbangan sebuah naskah berita enggan melakukan penjelasan terhadap wartawan yang hadir. (*)
Reporter : Panji Achmad Chaplin

