
Tasfm.com – Optimalkan peran Duta Generasi Berencana (GenRe) sebagai penggerak bagi remaja untuk menjalani kehidupan yang sehat, berencana, dan berkarakter, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri menggelar Pelatihan Pendidik Sebaya bagi Duta GenRe Kota Kediri, Senin (28/9) di Aula Kantor DP3AP2KB. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari konselor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Forum GenRe.
Kepala DP3AP2KB Kota Kediri, dr. Muhammad Fajri Mubasysyir, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membekali para Duta GenRe dengan pengetahuan dan keterampilan sebagai pendidik maupun konselor sebaya. Mereka diharapkan dapat menjadi tempat berdiskusi dan teman curhat bagi remaja lainnya.
Fajri menjelaskan, Duta GenRe memiliki sejumlah peran penting, mulai dari menjadi konselor sebaya dan role model, menyosialisasikan Program GenRe, memberikan edukasi mengenai lima transisi kehidupan remaja, hingga menjadi jembatan komunikasi dan advokasi.
Menurutnya, keberadaan Duta GenRe dinilai penting karena remaja pada umumnya merasa lebih percaya dan nyaman ketika menyampaikan cerita atau persoalan kepada teman sebaya. Karena itu, Duta GenRe dapat menjadi bagian penting dalam memberikan edukasi dan informasi yang relevan bagi remaja.
“Duta GenRe sangat membantu Pemerintah Kota Kediri dalam memberikan edukasi kepada remaja. Mereka secara rutin melakukan safari ke sekolah-sekolah di Kota Kediri, sedangkan DP3AP2KB bertugas mendampingi. Adapun materi yang mereka deliver ke teman sebayanya terkait: pengenalan diri, perencanaan hidup, kekerasan seksual, bahaya narkotika, serta berbagai persoalan yang dihadapi remaja.” jelasnya.
Ia berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri peserta ketika menyampaikan edukasi kepada teman sebaya. “Harapan kami para adik-adik Duta GenRe semakin percaya diri dalam melakukan sosialisasi kepada rekan sebaya dan menjadi agen perubahan di sekolahnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Putri, Konselor BKKBN yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, menyampaikan materi mengenai Pendidik Sebaya (PS) dan Konselor Sebaya (KS). Ia berharap setelah mendapatkan pelatihan, peserta dapat melakukan pemetaan di sekolah masing-masing, termasuk mempersiapkan pembentukan piket bagi sekolah yang belum memilikinya. “Bagi yang sudah ada, bisa melakukan pemetaan untuk memilih siapa yang akan menjadi Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya,” jelasnya.
Dirinya menerangkan, seorang Pendidik Sebaya harus memiliki bekal informasi yang memadai untuk kemudian disampaikan melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, Dan Edukasi (KIE) kepada remaja lainnya. Informasi tersebut bersumber dari modul yang telah disesuaikan dengan rentang usia remaja.
Sementara Konselor Sebaya memiliki kompetensi yang berbeda. Mereka diharapkan mampu menjadi tempat awal bagi teman sebaya yang membutuhkan ruang untuk bercerita maupun berdiskusi. Namun, peran tersebut bukan untuk menggantikan guru BK maupun psikolog.
Selain pengetahuan, peserta juga dibekali keterampilan menjadi pendengar aktif, membangun empati, berkomunikasi dengan baik, serta memahami pentingnya menjaga kerahasiaan teman yang telah bercerita. “Pesan Saya kepada mereka agar tetap produktif menyebarkan ilmu kepada sesama dan pastikan ilmu yang disampaikan valid,” pesan Putri.
Salah satu peserta, Samuel Panji, Duta GenRe Kota Kediri Tahun 2024 dari SMKN 1 Kota Kediri, mengatakan dirinya tertarik mengikuti forum ini karena menjadi wadah bagi remaja untuk mengasah kemampuan public speaking, memperluas relasi, sekaligus mengikuti berbagai kegiatan positif.
Melalui pelatihan kali ini, Samuel mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai peran konselor dan pendidik sebaya, termasuk bagaimana merespons ketika ada teman yang bercerita. Ia juga mendapatkan materi mengenai cara duduk, gesture, dan nada bicara ketika berkomunikasi.
Menurutnya, salah satu tantangan dalam memberikan edukasi kepada teman sebaya adalah memahami latar belakang audiens yang berbeda-beda. Karena itu, seorang Duta GenRe perlu memiliki empati dan mampu menempatkan diri dari sudut pandang audiens. “Intinya saya harus belajar lebih empati,” tuturnya.

Dalam memberikan sosialisasi, Ia lebih memilih menggunakan metode diskusi agar komunikasi yang terbangun berlangsung dua arah. Dengan demikian, remaja yang menjadi audiens tidak merasa sedang digurui. “Saya biasanya memberikan sosialisasi dalam bentuk diskusi. Saya bercerita, mereka juga bercerita, jadi terbangun komunikasi dua arah sehingga audiens tidak merasa digurui,” jelasnya.
Ke depan, Samuel berharap peran Duta GenRe dapat semakin luas, tidak hanya menjangkau sekolah-sekolah di Kota Kediri, tetapi juga hingga tingkat kecamatan dan kelurahan/desa serta sekolah-sekolah yang selama ini belum banyak mendapatkan edukasi.
“Kami sangat berharap ingin kolaborasi dengan kota lain untuk sosialisasi di tempat lain yang jarang kita kasih materi, mungkin sekolah di daerah pelosok,” pungkasnya.

