TAS FM
News

Bukan Bayang Bayang Malioboro: Jalan Dhoho adalah Arus Peradaban dan Cermin Identitas Kediri

Bukan Bayang Bayang Malioboro: Jalan Dhoho adalah Arus Peradaban dan Cermin Identitas Kediri

Tasfm.com – Selama bertahun-tahun, magnet ekonomi dan hiruk-pikuk pusat kota sering kali memicu perbandingan instan. Bagi sebagian pelancong, menyusuri trotoar padat di jantung Kota Kediri akan langsung menghadirkan dejavu atas Yogyakarta. Namun, mengerdilkan koridor legendaris ini hanya sebagai seserpih tiruan adalah sebuah kekeliruan besar. Jalan Dhoho bukan sekadar bayang-bayang Malioboro, ia adalah arus peradaban Kediri yang mandiri, sebuah cermin sejarah yang hidup sekaligus penjaga identitas kota yang tak lekang oleh zaman.

Di tengah gempuran modernisasi dan pembangunan infrastruktur berskala besar di wilayah Kediri, Jalan Dhoho berdiri kokoh sebagai jangkar kultural. Ia menjadi pengingat bahwa kemajuan ekonomi tidak harus mengorbankan akar tradisi. Saat kota-kota lain kehilangan jati dirinya demi mengejar modernitas yang seragam, Dhoho tetap setia menampilkan wajah Kediri yang otentik, ramah, religius, namun tetap adaptif terhadap perubahan zaman.

Bagi seorang Kulturis Eyang S, kekuatan sejati Jalan Dhoho tidak terletak pada komoditas yang dijual di etalase toko ataupun transaksi rupiah di atas trotoar. Kekuatannya tertanam pada aspal dan tanah yang dipijak. Nama “Dhoho” sendiri diambil dari “Dahanapura” atau Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri kuno yang kemasyhurannya pernah mengguncang Nusantara.

“Arus peradaban di jalan ini telah mengalir melintasi berbagai zaman, mulai dari pusat pemerintahan raja-raja Jawa kuno, saksi bisu perkembangan ekonomi etnis Tionghoa dan Arab, memori masa kolonial, hingga bertransformasi menjadi pusat modernisasi tanpa kehilangan jiwanya,” katanya.

Jika akar tradisi adalah penopang napas kota, maka D’Cito seharusnya menjadi manifestasi denyut nadinya, menjadikan Jalan Dhoho bukan sekadar teras belanja, melainkan etalase hidup tempat memori dan ekonomi lokal berjalin seirama, menjadikan pilar penyangga dan akar untuk menjadikan wilayah kota yang dinamis dan berkelanjutan.

Menurut Eyang, konsep “Kediri City Tourism (D’Cito)”. Sebuah program unggulan Pemerintah Kota Kediri untuk mengembangkan wisata perkotaan yang terintegrasi, dengan menata Jalan Dhoho sebagai ikon pusat wisata, belanja, dan UMKM. “Berpijak dari akar sejarah yang kokoh, diharapkan D’Cito menghidupkan kembali karakter Kota Kediri lewat wajah baru Jalan Dhoho, sebuah koridor pedestrian ikonik yang mempertemukan kehangatan tradisi dengan denyut nadi perdagangan masa kini,” tandas Eyang S.

Hadirkan Artistik Dekoratif di Sepanjang Jalan Dhoho
(Hadirkan lampu era kolonial, Pecinan, dan Islami)

Jenis Lampu Era Kolonial

* Lampu Teplok: Lampu minyak kecil berukuran portabel yang menggunakan sumbu kain dan kaca pelindung (semprong), sangat populer di kalangan masyarakat umum saat minyak tanah mulai diperkenalkan massal.
* Lampu Kerek atau Katrol (Castrol): Lampu gantung besar berbahan kuningan khas Eropa yang dilengkapi sistem katrol untuk menaik-turunkan posisi lampu saat diisi minyak atau disulut.
* Lampu Koboy / Lampu Gantung Kristal: Lampu gantung mewah dengan rangka kuningan dan kap penutup dari kristal atau kaca bermotif, biasanya menghiasi rumah para pejabat atau bangsawan kolonial.
* Lampu Petromaks (Strongkeng): Lampu tekanan tinggi berbahan bakar minyak tanah yang menggunakan kaos lampu (mantel), menjadi standar penerangan kuat sebelum listrik masuk ke perumahan.
* Lampu Dinding Antik: Lampu orisinal bermotif flora, fauna (seperti harimau atau merak), atau ukiran seni Art Nouveau/Art Deco yang dipasang di pilar atau dinding bangunan kolonial

Jenis Lampu Pecinan

* Lampion merah khas Tionghoa yang sering menghiasi festival, atau tiang lampu jalan klasik/antik dengan ornamen oriental yang dipasang di kawasan cagar budaya Pecinan (Chinatown).

Jenis Lampu islami

* Berbagai jenis pencahayaan dekoratif yang mengusung estetika kebudayaan Islam, seperti penggunaan motif geometri arabeska, potongan pola laser (laser-cut), bentuk kubah masjid, hingga seni kaligrafi.

Sentuhan inilah yang memisahkan lanskap ini dari bayang-bayang Malioboro. Konsep living heritage di sini justru melahirkan sebuah simfoni kosmopolitan. Perbedaan mendasarnya terletak pada bagaimana keragaman tidak sekadar berdampingan, melainkan melebur menjadi satu jiwa menjadi lanskap estetika baru yang kaya dan berlapis. Sebuah suaka budaya kultural yang menolak tunduk pada arus seragam. (*)

Reporter : Panji Achmad Chaplin

Artikel Terkait

Gus Qowim Buka Bhumi Panji Kertapati Volume 3.0 Pushbike Championship Piala Wali Kota Kediri

KENAIKAN LABA PT GUDANG GARAM TBK MENCAPAI RP 5,3 TRILIUN

KONI Kota Kediri: Tahun 2025 Jadi Prestasi Terbaik Olahraga Kota Kediri dalam Satu Dekade Terakhir