
Tasfm.com – Pesona living heritage adalah kekuatan dinamis yang menjaga denyut urat nadi budaya asli agar sejarahnya tidak membeku menjadi artefak kaku. Konsep Living Heritage Kota Kediri menghidupkan kembali karakter asli kawasan melalui perpaduan tata ruang fisik serta festival kuliner, seni, dan permainan anak tradisional.
Pendekatan ini mempertahankan kemurnian akar sejarah Islam, Kolonial, dan Tionghoa. Penataan lanskap mengoptimalkan trotoar dengan fasilitas bangku besi cor, meja balok kayu, tiang lampu kuno Jembatan Lama Brawijaya, lampion Pecinan, serta lentera besi tempa berongga khas Islam Timur Tengah.
Nadi kehidupan kawasan ini kian berdenyut lewat festival terpadu yang menghidupkan kembali khazanah kudapan tradisional, panggung seni yang mendalam sekelas Keroncong Indische dan Orkes Gambus, serta arena permainan rakyat lintas budaya. Sebuah ruang publik ramah keluarga di mana memori masa lalu dirayakan, dan masa depan Kota Kediri dirajut bersama.
Dilansir dari tasfm.com, Eyang S menilai keunikan akulturasi budaya berlapis di Kota Kediri tidak dapat ditemui di Malioboro, Yogyakarta. Tiga pilar Harmoni akulturasi tersebut menjadi pembeda utama yang mencirikan karakteristik Kota Kediri. “Melalui harmoni tiga budaya ini, Kota Kediri tidak hanya merayakan memori kolektif warganya, tetapi juga melangkah pasti sebagai kota wisata yang ramah dan ngangeni bagi siapa saja,”jelasnya. Jum’at (25/9/2026).
Wajah Baru Lanskap Kediri: Tiga Pilar Harmoni Islam, Kolonial, dan Tionghoa
PILAR I: TATA RUANG & DESAIN FISIK (Artistik Dekoratif Living Heritage)
1. Kawasan Stasiun: “Koridor Meneer” (Eropa Kolonial)
* Tempat Duduk: Besi cor (cast iron) hitam | Motif sulur kaku Eropa Klasik.
* Pencahayaan: Tiang besi lurus tegak (replika Jembatan Lama) | Kap bundar putih susu dengan katrol elektrik.
2. Kawasan Pakelan: “Lorong Lampion” (Tionghoa Pecinan)
* Tempat Duduk: Kayu log (gelondongan ) utuh berlapis pernis (lacquer) merah tua.
* Pencahayaan: Kain poliester tahan air | Bentangan lampion gantung merah polos.
3. Kawasan Alun-Alun: “Pelataran Medina” (Timur Tengah)
* Tempat Duduk: Besi tempa hitam dan pelat tembaga | Motif lengkung geometri bintang segi delapan (arabes).
* Pencahayaan: Besi tempa hitam berlubang (laser-cut) | Desain kubah Maroko penumpang siluet bayangan.
PILAR II: FESTIVAL KULINER, SENI, DAN DOLANAN
(Zonasi Berbasis Kluster Kebudayaan Sejarah Kota Kediri)
1. KAWASAN STASIUN: “Budaya Asli Kolonial”
Festival Kuliner (Jajanan / Kue Kuno Barat):
°Klappertaart (Kue custard kelapa muda kismis Belanda).
°Ontbijtkoek (Kue bolu rempah kayu manis Belanda).
°Spekoek (Kue lapis legit mentega kolonial)
°Spiku (Kue lapis Surabaya manis lembut)
°Bruder (Roti bluder kuno mentega lembut)
°Jan Hagel (Kue kering kenari gula kasar)
°Bitterballen (Bola ragout daging sapi goreng)
Festival Seni Musik, Teater & Tari Kolonial:
°Musik Keroncong Laras Indis asli,
Musik Orkes Tiup Militer / Wandelorkest , Musik Resital Klasik Kolonial, Tari Dansa
Festival Dolanan:
°Bentengan: Terinspirasi dari strategi pertahanan taktis benteng militer Hindia Belanda/VOC di Jawa.
°Kelereng / Gundu: Dibawa oleh anak-anak Eropa ke sekolah-sekolah kolonial sebelum menyebar ke masyarakat pribumi.
2. KAWASAN PAKELAN: “Budaya Asli Tionghoa”
Festival Kuliner (Jajanan / Kue Peranakan):
°Ang Ku Kueh (Kue ketan merah isi kacang hijau)
°Fa Gao (Kue mangkok mekar tepung beras)
°Nian Gao Fried (Kue keranjang Imlek goreng telur)
°Mata Roda / Moho (Kue kukus mekar ragi tape)
°Tiong Chiu Pia (Kue bulan panggang isi tausa)
°Lo Mai Ci (Kue moci kenyal isi kacang)
°Kompiang (Roti panggang wijen keras kopong)
Festival Seni Teater, Ritual & Tari Tionghoa:
°Teater Wayang Thiti / Potehi, Ritual Arak-arakan Tandu Dewa / Joli , Tari Barongsai & Liang Liong Tradisional, Tari Kipas Klasik Tionghoa
Festival Dolanan:
°Dakon / Congklak Kayu: Sesuai. Papan hitung tradisional yang sering dimainkan di pelataran toko pecinan lama untuk melatih ketangkasan berhitung niaga anak-anak.
°Layangan Kertas Oriental: Sesuai. Permainan Fengzheng (layang-layang kertas bermotif naga/burung) yang berakar kuat dari Dinasti Song di Tiongkok.
°Lompat Tali Karet: Sesuai. Dikenal sebagai Tiao Pi Jin, permainan anyaman karet gelang ini merepresentasikan ketangkasan fisik anak-anak permukiman padat Tiongkok
3. KAWASAN SEKITAR MASJID AGUNG: “Budaya Asli Islam”
Festival Kuliner (Jajanan / Kue Timur Tengah & Melayu):
°Baklava (Pastri lapis kacang siram madu)
°Basbousa (Kue bolu gandum basah sirup)
°Sambosa Sweet (Pastri segitiga isi keju kismis)
°Ka’ak Al-Yansun (Biskuit kering aroma jintan adas)
°Ma’amoul (Kue kering mentega isi kurma)
°Umm Ali (Puding roti panggang susu rempah)
°Qatayef (Panekuk lipat isi kacang walnut)
Festival Seni Musik, Syiar & Tari Islam:
°Musik Selawat Jidor / Hadrah Klasik, Musik Orkes Gambus Tradisional , Tari Zapin Arab-Peranakan , Tari Rodat Islami
Festival Dolanan:
°Gasing Kayu (Panggalan): Sesuai. Dikenal dalam kebudayaan Arab kuno sejak abad ke-10 (Tawarah/Top) sebagai mainan ketangkasan berputar.
°Al-Sikka (Engklek Arab) :
Permainan melompat petak garis (Khashkhashah) yang sangat populer melatih keseimbangan fisik anak-anak di Timur Tengah.
Lewat konsep living heritage, pelestarian budaya dan denyut pertumbuhan ekonomi kini berjalan selaras. Integrasi ini menyulap kawasan menjadi etalase hidup yang memikat, yang tidak sekadar memanjakan mata wisatawan, tetapi juga menjelma sebagai instrumen strategis untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Program Kediri City Tourism. (*)
Reporter : Panji Achmad Chaplin

