TAS FM
News

Kaum Penggali Kubur Kampung Kauman Bersih Bersih Makam, Ini Makna Songsong Bulan Ramadhan 2026

Kaum Penggali Kubur Kampung Kauman Bersih Bersih Makam, Ini Makna  Songsong Bulan Ramadhan 2026
Kaum Penggali Kubur Kampung Kauman Bersih Bersih Makam, Ini Makna Songsong Bulan Ramadhan 2026

Tasfm.com – Kaum Penggali Kubur (KPK) Kampung Kauman Kelurahan Kampung Dalem, Adakan giat bersih bersih makam untuk menyongsong bulan Ramadhan 2026. Kegiatan diikuti ratusan warga dipimpin langsung oleh Ketua RW 02 Kampung Dalem, Lhutfi dan Ketua KPK, Sutriono, Ketua RT 01, Shidiq Arifa, perwakilan dan warga perwakilan dari RT 02, RT 03 , RT 04, dan RT 05. Minggu, (8/2/2026) pagi pukul 07.00 WIB sampai selesai.

Lutfhi, mengungkapkan kegiatan ini dilakukan warga Kampung Kauman Kelurahan Kampung Dalem khusus RW 02 untuk menyongsong bulan yang penuh berkah. “Bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan, di mana setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Disebut sebagai syahrul mubarak (bulan berkah),” ucapnya.

Biasanya tradisi di timur (muslim indonesia) budaya nya mengadakan tradisi nyekar atau ziarah kubur. “Mengunjungi makam keluarga untuk mendoakan leluhur, membersihkan makam, dan menabur bunga,” jelas Lutfhi.

Sementara itu, Sutriono, Ketua KPK yang diwakili oleh Djoko Basuki, menyampaikan kegiatan bersih bersih makam ini dilakukan warga kampung Kauman secara rutin setiap tahun menjelang Ramadhan. “Alhamdulillah, dalam kesempatan ini warga sangat antusias sekali, ada dua tempat yang kita bersihkan: yaitu, makam jetis dan makam masjid agung kota Kediri,” terangnya.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jetis, warga Kampung Kauman kelurahan kampung dalem, mempunyai hak lahan sekira 1/4 untuk pemakaman untuk pemakaman warga kampung kaiman, sedangkan di makam Masjid Agung Kota Kediri, diketahui memang makam untuk warga sekitar Kampung Kauman khusus ahli bait dan alim ulama.

Menurut perspektif Jawa, songsong (menyambut) bulan Ramadhan memiliki makna spiritual dan kultural yang dalam, yang melampaui sekadar persiapan fisik. Hal ini berkaitan dengan rasa syukur, kegembiraan, pembersihan diri, serta pelestarian tradisi budaya yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam.

Rasa Syukur dan Kegembiraan (Mbungahake)

Menyambut Ramadhan adalah wujud syukur kepada Allah atas karunia umur sehingga masih dipertemukan dengan bulan suci. Nuansanya adalah gembira, bukan beban.

Penyucian Lahir dan Batin (Resik-resik)

Songsong Ramadhan bermakna mempersiapkan diri secara total. Secara fisik (jasmani) dengan membersihkan lingkungan, dan secara batin (rohani) dengan memohon ampunan kepada Allah (istighfar) serta meminta maaf kepada sesama (silaturahmi).

Tradisi Megengan (Menahan Nafsu)

Secara kultural, masyarakat Jawa melakukan tradisi Megengan (dari kata megeng = menahan). Ini bermakna latihan untuk menahan diri dari hawa nafsu, makan, minum, dan perbuatan buruk selama sebulan penuh ke depan. Wujud Sedekah dan Tasyakuran: Tradisi ini seringkali disertai dengan pembagian makanan (apem, ketan, kolak) atau kenduri (tumpengan) yang bernilai sedekah, wujud berbagi kegembiraan dan kebersamaan.

Ziarah Kubur (Nyadran)

Masyarakat Jawa juga melakukan ziarah kubur untuk mendoakan leluhur. Ini dimaknai sebagai pengingat akan kematian, sehingga diharapkan semangat ibadah di bulan Ramadhan meningkat.

Meluruskan Niat

Menyambut Ramadhan dengan tulus ikhlas, hanya mengharap ridha Allah agar ibadah puasa menjadi maksimal.
Tradisi menyambut Ramadhan di Jawa, adalah sarana aktualisasi ajaran Al-Qur’an dan Sunnah yang dibalut budaya lokal, untuk membangun mental spiritual yang siap menghadapi bulan suci. (*)

Reporter : Panji Achmad Chaplin

Artikel Terkait

Wali Kota Kediri Segera Keluarkan SE Terkait Larangan Peredaran Miras di Bulan Ramadan

Pastikan Kesiapan Penanganan Kebakaran, Pemkot Kediri Lakukan Sidak Hydrant

Pantau Penyaluran Bansos dan PKH Tahap III dan IV di Hari Pertama, Pemkot Kediri Pastikan Semua Aman dan Tepat Sasaran