TAS FM
News

Palugada Tenun Ikat Kediri: Pokdarwis Ujung Tombak Promosi Untuk Raih Prestasi

Palugada Tenun Ikat Kediri:Pokdarwis Ujung Tombak Promosi Untuk Raih Prestasi
Palugada Tenun Ikat Kediri: Pokdarwis Ujung Tombak Promosi Untuk Raih Prestasi

Tasfm.com – Tenun ikat merupakan kain khas Kota Kediri. Dilansir dari website resmi Pemkot Kediri tahun 2019, Kain tradisional itu punya sejarah yang cukup panjang, seperti asal usul Kota Kediri yang merupakan kerajaan tua dengan beragam kekayaan budayanya. Dalam sejarahnya, tenun ikat sudah ada sebelum Indonesia merdeka atau pada masa pemerintahan Kerajaan Kediri sekitar abad 11-13.

Seorang sejarawan asal Belanda, Gerrit Pieter Rouffaer yang melakukan penelitian kain di Indonesia mengatakan, bahwa pola gringsing atau teknik dobel ikat di mana pola tersebut hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sudah dikenal dan digunakan sejak abad ke-12.

Sejarah tenun ikat di Kediri mulai berkembang diawali oleh warga keturunan Tionghoa pada tahun 1950-an dengan membuka usaha yang memiliki sekitar 200 alat tenun dan ratusan perajin. Usaha tersebut terus berkembang seiring dengan berkembangnya perdagangan dengan saudagar-saudagar dari Madagaskar, China, India, Tiongkok dan Arab hingga mengalami masa jaya pada periode 1960-1970.

Namun seiring berjalanannya waktu, kejayaan tenun ikat Kediri kian surut pada tahun 1985, ketika kebijakan pemerintah waktu itu untuk mengimpor ratusan mesin tenun modern sehingga muncul kain tenun dan batik tenun ikat hasil dari pabrik.

Slamet Sugianto, pemilik ‘Palugada Tenun ikat’ menuturkan bahwa masyarakat Kediri dulunya belajar tentang seni menenun dari para saudagar yang banyak dijumpai di dermaga. Perkembangannya pun sangat pesat karena yang dulunya hasil kerajinan tenun ikat hanya berupa sarung, kini sudah banyak produk turunannya seperti syal dan tas.

“Pengrajin tenun sempat terpuruk ketika pandemi covid-19. Bahkan hampir saja menutup industri tenun ikat, namun kami memikirkan nasib karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun lamanya. Akhirnya kami memutar otak memikirkan bagaimana supaya tetap bertahan. Kemudian kami memutuskan untuk mencoba membuat masker dengan bahan dasar kain tenun ikat,” ungkap Slamet seraya menceritakan pembentukan pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang telah dilakukan demi menjaga eksistensi tenun ikat diantara gempuran produk modern.

Terbukti nyata bahwa hal ini tidak sia-sia karena sentra tenun ikat Bandar Kidul Kota Kediri mendapat pengakuan dan telah meraih beberapa penghargaan salah satunya juara 1 Desa Wisata se Jawa Timur.

Slamet merasa bersyukur, manakala melalui pokdarwis yang ia gagas bersama rekan-rekannya yang hampir semuanya adalah pengrajin tenun ikat. Sentra tenun ikat Bandar terpilih dalam 300 besar Asosiasi Desa Wisata Seluruh Indonesia dengan jumlah peserta 70.000. Kami memang tidak diberikan warisan alam tapi kami memperoleh warisan budaya yang secara konsisten ikut menjaga kelestarian budaya menenenun.

“Alhamdulillah di tahun 2023 awal, tenun ikat terdaftar dalam salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB),” kata Slamet.

Dengan demikian, Slamet tak lupa berterima kasih pada pemerintah, yang telah banyak mendukung dan mempromosikan produk kerajinan tenun ikat Kediri. Andalan motif kain tenun ikat Kediri adalah bercerita tentang sejarah Kediri. Seperti, ornamen geometris meander (di makam Syech Wasil), jembatan lama (Jembatan Brug Over den Brantas te Kediri), bunga Kusumawijaya (dicandi Sitinggil Lirboyo), dan kesemuanya terdapat motif dengan huruf kawi kuno bertuliskan Kadiri.

“Filosofinya menjaga keseimbangan antara Yang Naha Kuasa dengan umat-Nya atau antara pemerintah dan rakyatnya, selain itu generasi penerus juga ikut mencintai sekaligus Ngangeni,” ujar Slamet.

Diketahui, perajin tenun ikat bukan mesin (ATBM) tersentral di Kelurahan Bandar Kidul di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Lokasinya tak jauh dari alun-alun Kota Kediri atau hanya dibatasi oleh Sungai Brantas.

Sekitar 20 rumah industri tenun yang berada di kampung ini rata-rata dikerjakan secara turun temurun hingga tiga generasi.

* Pokdarwis Tenun Ikat

1. Divisi Promosi; divisi yang disi oleh anak-anak muda, bergerak untuk mempromosikan tenun karena berhubungan dengan sistem IT.
2. Divisi Pengrajin; terdiri dari penenun, menjahit, dan membentuk pola.
3. Divisi Seni dan Budaya; menangani mulai kesenian religi, kesenian tradisional dan kesenian modern.
4. Divisi Pokdakan; kelompok budidaya ikan, hasilnya dibikin bermacam macam kerupuk,”Karena menenun itu sulit, kita libatkan bapak-bapak yang tidak bisa menenun untuk budidaya ikan,” jelas Slamet.
5. Divisi Poklasar; pengolahan dan pemasaran produk,disini tugas ibu-ibu memasak hasil budidaya, untuk disuguhkan kepada tamu yang berkunjung.
“Wisatan datang tentu juga membawa keluarganya, disini kita sediakan oleh-oleh selain produk tenun ikat,” pungkas Slamet.

Kelompok Sadar Wisata harus saling mendukung. Kerja sama dan kolaborasi adalah kunci utama keberhasilan Pokdarwis, baik secara internal dalam satu kelompok maupun antara kelompok didaerah yang berbeda menjadi satu kesatuan untuk bisa memperkuat kampungnya masing-masing. (*)

Reporter : Panji Achmad Chaplin

Artikel Terkait

Serah Terima Kirab Pataka 2024, Pemkab Kediri Maknai Semangat Kebersamaan Warga Jawa Timur

Tingkatkan Wawasan Tentang Keamanan Pangan, Pemkot Kediri Beri Penyuluhan Kepada 150 PKL

Anak Bungsu Tompi, Xachari Zayn Merilis Sebuah Single Empowering Berjudul ‘Jatuh Cinta Mudah Bahagia Itu Yang Susah’