TAS FM
News

Nadi Budaya Kota Kediri: Perspektif Baru Kawasan Living Heritage

Nadi Budaya Kota Kediri: Perspektif Baru Kawasan Living Heritage

Tasfm.com – Perspektif living heritage (warisan budaya hidup) adalah sudut pandang yang memandang warisan budaya baik berupa situs fisik, tradisi, maupun cagar budayq, bukan sebagai benda mati atau monumen masa lalu yang statis, melainkan sebagai entitas hidup yang terus berkembang, relevan, dan dipraktikkan secara aktif oleh komunitas lokal saat ini. Denyut nadi budaya adalah metafora untuk kekuatan hidup, tradisi, dan nilai-nilai leluhur yang terus berdetak serta menghidupkan identitas suatu masyarakat dari generasi ke generasi. Pelestarian warisan hingga dokumentasi digital desa adat menjadi bukti nyata bagaimana denyut ini tetap dijaga keberlanjutannya.

Jurnalis tasfm.com, Panji Achmad Chaplin, bersama seorang Kulturis yang akrab disapa Eyang S, menyoroti kuatnya identitas kultural dan kesejarahan yang dimiliki Kota Kediri. Karakteristik ini dinilai menjadi pembeda utama yang tidak dimiliki oleh kawasan Malioboro di Yogyakarta. Menurutnya, Kota Kediri memiliki garis identitas sejarah yang sangat tegas dan terbagi dalam beberapa zona strategis. Pertama, identitas kesejarahan kolonial yang melekat kuat di area stasiun. Kedua, identitas akulturasi budaya etnis pendatang dengan masyarakat lokal yang berkembang di wilayah Pecinan. Ketiga, identitas kebudayaan Islam yang berdiri kokoh di sekitar kawasan Masjid Agung.

Eyang S menyebutkan bahwa keunikan akulturasi budaya berlapis di Kota Kediri ini tidak dapat ditemui di Malioboro. Ia menilai Malioboro saat ini tidak menonjolkan identitas kesejarahan yang murni, melainkan lebih dikembangkan ke arah konsep kepariwisataan kreatif. Contoh pariwisata kreatif di Malioboro tersebut meliputi pemanfaatan kawasan sebagai ruang publik untuk ekspresi seni dan budaya. “Kendati sukses menjadi ruang publik yang hidup, kawasan tersebut dinilai kehilangan penegasan identitas sejarah masa lalunya jika dibandingkan dengan orisinalitas yang ada di Kota Kediri,” katanya.

Ketiga Situs Pilar Historis Membentuk Identitas Perkotaan Kota Kediri sebagai Living Heritage atau Warisan Budaya Yang Hidup

1. Stasiun Kediri Tahun Pendirian: Didirikan pada tahun 1881 oleh perusahaan kereta api kolonial Staatsspoorwegen (SS).

* Arsitektur: Mengusung gaya Indische Empire yang kokoh, megah, dan bercirikan bangunan kolonial.

* Fungsi Historis: Menjadi pusat distribusi hasil bumi regional seperti gula, tembakau, kopi, dan beras dari Karesidenan Kediri menuju kota pelabuhan.

* Kondisi Kini: Masih aktif melayani penumpang sebagai stasiun besar di bawah pengelolaan KAI Daop VII Madiun.

2. Kawasan Pecinan Kota Kediri Lokasi: Membentang meliputi kawasan Ringinanom, Pocanan, hingga Pakelan.

* Karakteristik: Menampilkan perpaduan arsitektur Tionghoa, Kolonial Belanda, dan Jawa pada deretan bangunan kunonya.

* Jejak Peradaban: Menyimpan sejarah permukiman etnis Tionghoa, rumah bekas kapiten Tionghoa, serta kedekatannya dengan Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berdiri ikonik di tepi Sungai Brantas.

3. Masjid Agung Kota Kediri Tahun Pendirian: Berdiri pertama kali pada tahun 1771 M di sisi barat Alun-Alun Kota Kediri.

* Peran Kolonial: Direnovasi pada tahun 1928, masjid ini berfungsi sebagai pusat berkumpulnya para ulama untuk mempertahankan moral dan keimanan masyarakat dari pengaruh kolonial.

* Filosofi Tata Ruang: Mengadopsi pola Kesultanan Islam Jawa—di mana posisi masjid di sebelah barat alun-alun menyimbolkan bahwa kekuasaan duniawi senantiasa dibimbing oleh nilai-nilai spiritual.

“Pengembangan kawasan berbasis living heritage di Kota Kediri sangat potensial, mengingat jejak sejarahnya pada tahun 1920-an mencatat kehadiran bangsa Armenia dan Eropa yang melakukan aktivitas perdagangan melalui Sungai Brantas. Hal ini membuktikan bahwa sejak abad ke-20, Kota Kediri telah tumbuh sebagai ruang multikultural dan kosmopolitan yang aman serta inklusif.” Tandasnya.

Namun, menurut Eyang S, semuanya tidak mudah dilakukan. Semua langkah harus disertai hati yang tulus, konsep yang matang, serta sinergi dari semua lini. Ia memungkasi, “Untuk mempertajam living heritage di kawasan stasiun bernuansa kolonial, kawasan Pecinan, dan kawasan Masjid Agung bernuansa Islami, perlu dibuat festival sebulan sekali yang menampilkan pertunjukkan identitas sejarah tersebut,” pungkasnya.

Secara inklusif, visi Kota Kediri yang MAPAN (Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni) serta program unggulan Kediri City Tourism (D’CITO) sudah terimplementasi secara selaras dalam konsep kawasan Living Heritage Kota Kediri. (*)

Reporter : Panji Achmad Chaplin

Artikel Terkait

Pj Wali Kota Kediri Sambut Lebih Dari 23 Ribu Terawan dan Terawati Se-Indonesia Dalam Gebyar Hateri Ke-39

Tekan angka ATS, pemkab kediri gencarkan home visit

Jembatan Kaliombo I Ditutup Total Selama 7 Bulan, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas