
Tasfm.com – Kabar gembira bagi pengguna jalan yang mencakup ruas jalan nasional Kertosono – Kediri – Tulungagung. Diperkirakan dapat mulai dilewati pada awal September 2026 dengan adanya progres bangunan yang sudah 50 persen.
Sukisno, pelaksana proyek Jembatan Kaliombo 1, mengungkapakan. Sejumlah pekerjaan pokok telah diselesaikan, salah satunya pemasangan box culvert. Saat ini pengerjaan difokuskan pada pemasangan sayap jembatan, penyelesaian konstruksi bagian bawah, hingga tahap pengembalian kondisi dan finishing.
“Progres saat ini sekitar 50 persen. Masih ada sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan, seperti pengembalian kondisi dan finishing,” kata Sukisno, Kamis (30/7/2026).
Setelah pemasangan box culvert rampung, Sukisno menjelaskan, pekerjaan dilanjutkan dengan timbunan pilihan menggunakan material sesuai spesifikasi teknis. Tahapan berikutnya adalah pelapisan konstruksi jalan hingga proses pengaspalan.
Berdasarkan kontrak, proyek tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan Desember. Namun, pihak pelaksana berupaya mempercepat pekerjaan agar masyarakat dapat segera memanfaatkan jembatan tersebut.
“Kami upayakan, insyaallah akhir Agustus sudah bisa dilakukan pengaspalan, sesuai kontrak seharusnya pertengahan Desember,” jelasnya.
Dengan demikian, pekerjaan sudah masuk ke tahap penyelesaian, untuk itu jumlah tenaga kerja juga mengalami penyesuaian. Dari semula sekitar 15 hingga 20 pekerja, kini tersisa sekitar 11 orang yang fokus menyelesaikan pekerjaan akhir.
Tantangan terbesar selama pembangunan berada pada area aliran sungai. Lanjut Sukisno menerangkan. Kondisi medan membuat sebagian pekerjaan harus dilakukan secara manual karena alat berat tidak dapat beroperasi secara optimal.
Percepatan pembangunan disambut antusias oleh pengguna jalan. Haji Sahirul Badri, berharap proyek segera rampung sebelum musim hujan tiba sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal.

“Saya gembira kalau pembangunan ini bisa dipercepat. Karena musim hujan akan tiba,” terangnya.
Haji Syahirul, mengungkapkan sempat terdampak akibat terbatasnya akses. Ia beberapa kali melakukan “nambang” (naik perahu lewat sungai) untuk menghindari kemacetan.
Menurutnya, keberadaan Jembatan Kaliombo memiliki peran penting sebagai akses utama masyarakat. Selama proses pembangunan, warga harus beradaptasi dengan berbagai keterbatasan, mulai dari akses yang terganggu hingga kemacetan di sekitar lokasi proyek.
Ia berharap, dengan selesainya pembangunan jembatan tidak lagi membuat masyarakat kerepotan dan memudahkan aktivitas kesehariannya.
“Setelah jembatan selesai, dapat memperlancar ekonomi dan mengakhiri kemacetan tentunya positif jangka panjang,” tandasnya.

