
Tasfm.com – Sejarah secara sederhana bisa dianggap sebagai cerita masa lalu yang dirasakan seseorang, atau bahkan peradaban, bangsa dan negara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sejarah dapat diartikan sebagai sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sejarah sangatlah mempengaruhi dunia global saat ini. Dari sekian banyak peristiwa dari kejadian tersebut hadir pemikiran-pemikiran baru. Dari kejadian itu hadir kebiasaan-kebiasaan baru secara internasional.
“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, mungkin bagi beberapa orang kata-kata tersebut tidaklah asing. Ya ungkapan tersebut dilontarkan oleh pendiri bangsa Indonesia, Ir Soekarno yang juga presiden pertama Republik Indonesia. Kata-kata tersebut sangat menegaskan pentingnya sejarah dan janganlah kita sampai meninggalkanya.
Kali ini jurnalis Panji Achmad Chaplin berbincang santai dengan salah satu pemerhati sekaligus pelaku seni yang mempunyai julukan Eyang S (ES).
Telah diberitakan oleh Tasfm.com terkait Pemkot kota Kediri lewat dinas budaya pariwisata pemuda dan olahraga telah melakukan langkah yang dibilang menakjubkan. Langkah tersebut salah satunya menggelar Acara Lomba Cipta Tari Kreasi Khas Daerah kota Kediri. Pada Minggu 19 juli 2026 bertempat di wilayah goa seloamgleng.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Kediri, untuk melestarikan identitas budaya, menggali potensi seniman baru, dan mempromosikan kekayaan daerah. Dengan begitu, Acara tersebut bertujuan memberikan sekaligus membentuk sesuatu ikonik baru yang akan dijadikan identitas.
Eyang S menerangkan, situs Goa selomangleng seharusnya cukup kuat bilamana dijadikan referensi ikonik, karena kaya akan sejarah, legenda lokal, dan keindahan alam yang juga terkenal sebagai situs pertapaan dan budaya.
Daya Tarik legenda dan sejarah, lanjut Eyang, diantaranya adalah: Pertapaan Dewi kilisuci
Peninggalan kuno situs bersejarah dari masa kerajaan Kediri dengan relief batu yang unik
Museum Airlangga
Pusat seni sering dipakai untuk acara budaya, seni daerah bahkan tingkat internasional.
“Di goa selomangleng, juga sering dijadikan sebagai lokasi pentas kesenian. Pada tahun 2017 lalu juga terdapat atraksi seniman dari tiga negara yaitu dari Indonesia, Finlandia, dan Mexico. Seniman dari Kediri berkolaborasi dengan seniman asing mementaskan “Panji Gunung”. Kata Eyang.
Selain itu, Situs cagar budaya seharusnya menjadi rujukan karena disitus terdapat ornamen relief yang menceritakan sejarah dan budaya kota kediri.
Relief dan Cerita Rakyat Referensi Laik menjadi tarian khas di Kota Kediri.
Relief Garudeya / Garuda Mukha
Filosofi Lambang Negara: Menjadi bagian dari sejarah panjang inspirasi bentuk Garuda Pancasila di Indonesia.
Cerita Rakyat
° Bango Tontong dan Yuyu Kangkang
Yang Terkuat Dalam Cerita Panji Ade – Ande Lumut: Setting geografisnya sama dengan Desa Dadapan (Kecamatan Pesantren): Dikenal dalam cerita rakyat sebagai tempat tinggal Mbok Randa Dadapan, tempat di mana Ande-Ande Lumut tinggal dan membuka sayembara mencari jodoh yang didatangi oleh Klenting Merah, Hijau, Biru, dan Kuning, melewati Sungai Brantas yang merupakan pemisah bersejarah antara wilayah Jenggala dan Kediri.
Bango tongtong (Leptoptilos javanicus) di kawasan Goa Selomangleng merujuk pada catatan keberadaan satwa burung air atau catatan lingkungan kawasan, yang juga berkaitan dengan inspirasi budaya lokal Kediri.
° Kisah Macan Putih di Goa Selomangleng berasal dari cerita rakyat tentang dua saudara, Bubuksah dan Gagang Aking, serta mitos pertapaan Dewi Kilisuci. Cerita ini menggambarkan ujian spiritual berupa kehadiran seekor harimau putih

Kisah Bubuksah dan Gagang AkingTokoh Kakak Beradik: Gagang Aking dan Bubuksah bertapa di lereng Gunung Klotok dekat Goa Selomangleng.Ujian Harimau Putih: Dewa yang berubah menjadi harimau putih datang menguji ketulusan hati mereka berdua.Simbol Daerah: Kisah ketulusan dalam kitab yang dibuat pada pertengahan abad 14 M. Rujukan tersebut menjadikan Macan Putih sebagai lambang resmi Kota Kediri dan klub Persik Kediri.
“Referensi diatas bisa dijadikan tari kreatif dan inovatif yang mengakar dari sejarah budaya kota Kediri. Untuk dijadikan tarian sambutan tamu dalam acara formal dan semua event resmi tingkat Pemkot, Kecamatan dan Kelurahan,” pungkas Eyang S. (*)
Reporter : Panji Achmad Chaplin

