
Tasfm.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat melalui kegiatan Penguatan Ekosistem Pesantren sebagai langkah strategis mendukung Program Prioritas Pemerintah dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Hal itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa
Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono, pada kegiatan Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) dan Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH), berkolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Selasa (14/4/2026).
Dicky pada kesempatan itu mengatakan, pondok pesantren dengan jumlah santri yang signifikan memiliki peran penting sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat, serta merupakan ekosistem yang kuat dalam mendukung program prioritas pemerintah.
“Program pemerintah saat ini tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk generasi ke depan. Ini merupakan sebuah kebersyukuran bagi kita semua ketika memiliki program yang berorientasi jangka panjang seperti ini,” jelasnya.
Menurut Dicky, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, bahkan sejak dini. Di saat yang sama, program ini membuka peluang ekonomi yang luas.
Ekosistem yang ada, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan, dapat menjadi bagian dari rantai pasok yang mendukung program ini. Masyarakat di sekitar pesantren dapat berperan sebagai pemasok kebutuhan, sehingga tercipta perputaran ekonomi yang kuat.
“OJK tidak hanya hadir sebagai regulator, namun juga berperan sebagai katalis, yang mempercepat dan menghubungkan, serta sebagai fasilitator yang membuka akses dan
membangun pemahaman. Peran ini diwujudkan melalui program yang langsung menyentuh kebutuhan di lapangan,” terang Dicky.
Melalui FEBIS, pelaku usaha tidak hanya dikenalkan pada alternatif pembiayaan syariah, tetapi juga dipertemukan langsung dengan lembaga jasa keuangan melalui business matching, sehingga terbuka peluang nyata untuk memperoleh pembiayaan.
Dicky menekankan bahwa penguatan ekosistem pesantren membutuhkan kolaborasi bersama antara pemerintah, regulator, industri jasa keuangan, pesantren, dan masyarakat.
Sementara Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya, mengatakan bahwa program MBG merupakan salah satu program pemerintah yang berguna bagi masyarakat sekarang dan di masa mendatang.
“Program ini menyasar kelompok rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta peserta didik, termasuk para santri. Pemerintah ingin memastikan bahkan sejak dalam kandungan, generasi penerus bangsa sudah mendapatkan asupan gizi
yang baik,” ungkapnya.

Program ini juga melibatkan jutaan relawan, khususnya dari kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat serta memberikan efek berganda
(multiplier effect) bagi perekonomian.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang hadir pada kegiatan tersebut, sangat mendukung program MBG yang merupakan program yang sangat fundamental untuk meningkatkan kualitas sumber daya santri di masa depan.
“Justru yang ingin kita lakukan adalah meningkatkan kualitas manusia seutuhnya yang dididik dan dihasilkan oleh pesantren. Manusia yang secara intelektual unggul, secara fisik Insya Allah semakin unggul dengan program – program ini, dan tentu saja secara rohaniah akan tetap kita pertahankan agar tetap unggul,” kata Gus Yahya.
OJK Kediri, disisi lain merasa bangga dapat menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan kegiatan Penguatan Ekosistem Pesantren melalui Program FEBIS dan SAKINAH di Pondok Pesantren Lirboyo, sebagai wujud nyata sinergi berbagai pihak dalam mendukung program prioritas pemerintah. Melalui kolaborasi bersama PBNU, Badan Gizi Nasional, serta Pelaku Usaha Jasa Keuangan Syariah.
“OJK Kediri berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan santri dan pelaku usaha pesantren, tetapi juga memperkuat akses pembiayaan, mendorong pengembangan usaha yang sehat dan berkelanjutan, serta menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mandiri dan berdaya saing,” tandas Ismi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam mendorong penguatan ekosistem ekonomi pesantren, termasuk mendukung program prioritas pemerintah yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, khususnya melalui penguatan pemenuhan gizi dan pengembangan usaha di lingkungan pesantren.
Peningkatan Literasi Santri Mengenai Kesehatan Keuangan dan Raga
Melalui kegiatan SAKINAH, OJK mendorong penguatan literasi keuangan syariah bagi generasi santri. Kegiatan yang mengusung tema “Santri Sehat, Keuangan Kuat, Masa
Depan Hebat” ini diikuti ratusan santri dan memuat edukasi mengenai
pengenalan produk dan layanan keuangan syariah, pengelolaan keuangan, kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal, serta pentingnya gizi dalam membentuk generasi yang sehat dan produktif.
Turut hadir, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK M Ismail Riyadi, Kepala OJK Provinsi Jawa Timur Yunita Lindasari beserta jajaran, Wakil Ketua PBNU KH Amin Said Husni beserta jajaran, Ketua Bidang Ekonomi PBNU KH Fahmi Akbar Idries, Ketua Tim Koordinasi dan Akselerasi (TKA) PBNU Alissa Wahid, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Anwar Manshur dan KH. Abdullah Kafabihi Mahrus beserta jajaran masyayik Lirboyo lainnya, Direktur Utama Bank Syariah Nasional (BNS) Alex Sofian Noor, Direktur Retail Banking Bank Syariah Indonesia (BSI)
Kemas Erwan Husainy, serta Forkopimda Jawa Timur beserta jajaran. (*)
Reporter : Panji Achmad Chaplin
